Kenali 7 Bangunan Bersejarah di Jakarta yang Beroperasi Hingga Sekarang (Part 1)

Sep 2, 2019

By PR

Kota Jakarta yang juga merupakan berfungsi sebagai ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia mempunyai banyak gedung pencakar langit untuk menunjang perekonomian. Namun selain gedung-gedung megah tersebut, banyak juga bangunan bersejarah di Jakarta yang memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia.

Penasaran dengan bangunan bersejarah di Jakarta yang masih digunakan sampai sekarang? Simak sampai selesai ya!

  1. Museum Nasional Indonesia.


    Museum Gajah Jakarta

    Museum yang berlokasi di Jl. Medan Merdeka Barat No. 12, Jakarta Pusat ini sering disebut juga sebagai Museum Gajah karena sebuah patung gajah dari perunggu di depan museum yang merupakan hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand yang pernah berkunjung ke museum pada tahun 1871.

     Gedung Museum dibuka untuk umum pada tahun 1868 dengan gaya arsitektur Neo-klasik yang masih mengikuti gaya arsitektur yang berlaku di Negara Belanda pada masa itu.

    Museum Nasional Indonesia

    Museum yang diserahkan pengelolannya dari Lembaga Kebudayaan Indonesia ke Pemerintah Indonesia sehingga menjadi Museum Pusat yang berubah menjadi Museum Nasional berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.09/0/1979 pada tanggal 28 Mei 1979 ini pada mulanya dibangun oleh pemerintah Hindia-Belanda untuk menampung hasil penelitian, benda budaya, dan buku-buku koleksi dari BG atau Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG). BG sendiri merupakan organisasi yang didirikan pemerintah Belanda di Batavia pada 24 April 1778 yang memiliki semboyan “Ten Nutte van het Algemeen” yang berarti untuk kepentingan masyarakat umum. Salah seorang pendiri lembaga ini yaitu JCM Radermacher menyumbangkan rumah miliknya di jalan Kalibesar dan koleksinya, yang menjadi cikal-bakal berdirinya museum dan perpustakaan.

    Museum Pusat

    Salah satu museum terlengkap dan tertua di Indonesia ini menyimpan kurang lebih 160.000 benda bersejarah yang terdiri dari 7 jenis koleksi Prasejarah, Arkeologi masa Klasik atau Hindu-Budha, Numismatik dan Heraldik, Keramik, Etnografi, Geografi dan Sejarah di atas lahan seluas 26.500 meter persegi dengan jumlah 2 gedung.

    Gedung A digunakan untuk menyimpan koleksi dan zona pamer sedangkan Gedung B atau Gedung Arca yang resmi dibuka pada 20 Juni 2007 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono digunakan untuk pameran, kantor, ruang konferensi, laboratorium, dan perpustakaan.

  2. Kawasan Kota Tua Jakarta.

    Diresmikan menjadi warisan sejarah oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada tahun 1923, Kawasan Kota Tua Jakarta dulunya merupakan daerah perdagangan pedagang India, Cina, Arab dan eropa atau yang dikenal dengan nama Sunda Kelapa. Kawasan dengan cakupan lahan seluas 334 hektar di Jakarta Barat dan Jakarta Utara ini tidak terlepas dari Taman Fatahillah yang pernah menjadi pusat pemerintahan Jakarta pada saat masih bernama Batavia. Ada 2 bangunan yang populer ketika mengunjungi kawasan ini.


    - Museum Fatahillah.

    Museum Fatahillah

    Gedung bersejarah yang saat ini dikenal dengan nama Museum Fatahillah atau Museum Batavia atau Museum Sejarah Jakarta ini awalnya digunakan sebagai gedung Balaikota (stadhius) pada pemerintahan VOC. Kemudian pada masa penjajahan Belanda, gedung ini digunakan sebagai Gedung Pengadilan, Kantor Catatan Sipil, tempat ibadah hari Minggu, dan Dewan Kotapraja.


    Gedung yang memiliki sejarah panjang ini, pada tahun 1925-1942 dimanfaatkan sebagai Kantor Pemerintahan Provinsi Jawa Barat, lalu berubah menjadi kantor logistik Dai Nippon pada tahun 1942-1945. Setelah merdeka, gedung ini digunakan sebagai Markas Komando Militer Kota (KMK) I pada tahun 1952, dan kemudian menjadi Kodim 0503 Jakarta Barat. Gedung ini diserahkan pada Pemda DKI Jakarta pada tahun 1968 dan dijadikan Museum pada tahun 1974.

    Museum Sejarah Jakarta

    Koleksi yang dapat ditemui antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik dari abad ke-17 sampai 19 yang merupakan perpaduan gaya Eropa, Tiongkok, dan Indonesia. Selain itu terdapat juga keramik, gerabah, dan batu prasasti. Koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, becak, bahkan patung Dewa Hermes juga bisa kamu jumpai.

    Mebel Antik Peninggalan Tarumanegara


    Bangunan yang menyerupai Istana Dam di Amsterdam ini terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. Memiliki arsitektur bergaya neoklasik dengan 3 lantai berwarna kuning tanah, kusen pintu dan jendela dari kayu jati berwarna hijau tua, dan bagian atap utama memiliki penunjuk arah mata  angin, menyajikan berbagai informasi yang menambah pengetahuan dan pengalaman, serta kesadaran akan pentingnya warisan budaya. Selain itu, pengunjung juga disuguhkan bermacam-macam kegiatan rekreatif yang menarik.

    - Cafe Batavia.

    Cafe Batavia

    Salah satu ikon Kawasan Kota Tua Jakarta ini merupakan bangunan tertua kedua yang berada di kawasan ini dan juga merupakan bangunan yang dilindungi pemerintah. Bangunan bergaya Neo-klasik ini meberikan kesan citra Eropa Kuno yang sangat terlihat pada interior bangunannya.

    Interior Cafe Batavia Interior Eropa Kuno Cafe Batavia


    Dibangun secara bertahap dari tahun 1805-1850 ini juga memiliki sejarah panjang sebelum menjadi Cafe Batavia yang dikenal seperti sekarang ini. Pada tahun 1973, bangunan ini berfungsi sebagai Pusat Administrasi VOC dan setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945-1990 menjadi kawasan konservasi. Tahun 1990, bangunan ini dibeli oleh Paul Hassan, pria berkebangsaan Prancis, dan menjadikannya Art Gallery sampai tahun 1993. Baru pada tahun 1993, dialih fungsikan menjadi Cafe Batavia setelah diakuisisi oleh Eka Chandra.

  3. Gedung Kesenian Jakarta.

    Gedung Kesenian Jakarta

    Gedung peninggalan Belanda ini mengusung mode bangunan bergaya Neo-renaisance yang diarsiteki oleh Arsitek Para perwira Jeni VOC, Mayor Schultze. Bangunan megah yang dibangun pada tahun 1821 yang disebut dengan nama Gedung Komedi dan Gedung Kesenian Pasar Baru, digunakan sebagai teater pada masa penjajahan Belanda.


    Selain itu, gedung ini menyimpan salah satu sejarah Indonesia yaitu Kongres Pemoeda yang pertama pada tahun 1926. Gedung peninggalan kolonial ini juga digunakan untuk meresmikan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) oleh Presiden Soekarno pada 19 Agustus 1945.

    Gedung Teater Kesenian Pasar Baru

    Gedung ini beralih fungsi kembali menjadi teater atau Gedung Kesenian berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 24 Tahun 1984. Pada tahun 1987, gedung ini direnovasi dan mulai menggunakan nama resminya, yaitu Gedung Kesenian Jakarta. Kini gedung ini menjadi tempat bagi para seniman dari seluruh Nusantara untuk menunjukkan kreasinya seperti, drama, teater, film, sastra, dan berbagai pertunjukan seni lain.

    Apakah kamu menikmati artikel ini? Masih ada 4 bangunan lagi yang akan disambung di part 2. Stay tuned untuk update-an blog kami selanjutnya dan jangan lupa untuk share ya!